Google+

Thursday, August 28, 2014

Abdulah Gampang, Mengolah Limbah Kayu Jadi Berkah

Abdulah Gampang
Di rumahnya, Abdulah Gampang tampak sedang menyelesaikan dan mengemas genta angin dari limbah kayu berukiran motif Dayak yang dilengkapi dengan ikon khas Kalimantan Tengah, burung tingang. Keringat masih mengucur dari tubuhnya yang bertelanjang dada. Bapak dua anak kelahiran Jepara 46 tahun lalu itu dulu bekerja serabutan pada toko mebel di Palangkaraya, kini dia menjadi pemilik industri rumah tangga Patra Craft yang mempekerjakan sedikitnya 15 orang dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Meski lahir di Jepara, Jawa Tengah, yang terkenal dengan kerajinan ukir kayunya, Gampang, demikian sapaannya, tidak pernah belajar mengukir di sana. Dia justru dibesarkan di Lampung hingga lulus SLTA pada 1993.

Setelah itu, Gampang memutuskan merantau dan menetap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 2005, dan menjadi buruh bangunan. ”Saya tidak punya keterampilan apa pun. Saat bekerja di mebel di Jalan Jati, Palangkaraya, saya tidak pernah bisa membuat kusen. Saya hanya bantu-
bantu,” kata suami dari Sri Handayani (39) tersebut.

Saturday, August 9, 2014

Rusa Sambar Berkembang Biak di Penangkaran Tahura

Maryoto (30), petugas yang merawat rusa sambar (Cervus unicolor), memberi makan rusa-rusa sambar yang ada di lokasi penangkaran di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Kamis (7/8). Penangkaran rusa sambar di Tahura Sultan Adam mulai dilakukan November 2012. Populasi satwa liar yang dilindungi itu bertambah dari enam rusa menjadi 13 rusa dalam kurun waktu sekitar dua tahun.
Rusa sambar (Cervus unicolor) yang ditangkarkan di Taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, berkembang biak. Populasi satwa liar yang dilindungi tersebut bertambah tujuh ekor dalam dua tahun.

Penangkaran rusa sambar di Tahura Sultan Adam dimulai akhir 2012. ”Awalnya ada enam rusa yang kami tangkarkan. Kini, jumlahnya menjadi 13 rusa,” ujar Kepala Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam Ahmad Ridhani, di Banjar, Kamis (7/8).

Dari 13 rusa sambar yang ada, 4 rusa jantan dan 9 rusa betina. Penangkaran rusa sambar itu tidak hanya untuk pelestarian, tetapi juga untuk edukasi dan berbagai penelitian.

Rusa sambar merupakan salah satu satwa asli Kalimantan. Habitatnya hanya ditemukan di Kalimantan dan Sumatera. Satwa liar tersebut patut dilindungi karena populasinya terus berkurang.

”Di alam bebas, rusa sambar kerap diburu. Rusa sambar di Kalimantan Selatan masih bisa ditemui di kawasan hutan Pegunungan Meratus,” ujar Ridhani.

Rusa sambar merupakan rusa terbesar di Indonesia. Rusa lainnya adalah rusa timor, rusa bawean, dan kijang. Tinggi rusa sambar bisa mencapai 1,6 meter dengan panjang 1,5 meter. Bobot pejantan bisa mencapai 100 kilogram.

Di lokasi penangkaran seluas 0,75 hektar, awalnya dipelihara enam rusa sambar (dua jantan dan empat betina) yang didatangkan dari Kalimantan Tengah. Sejak datang November 2012, ada yang sudah dua kali melahirkan.

Menurut Kepala Seksi Perlindungan Tahura Sultan Adam Alip Winarto, ada dua petugas khusus untuk menjaga dan merawat rusa sambar di tempat penangkaran tersebut. Dua petugas itu bertugas memberi makan rusa setiap pagi dan sore. Selain itu juga ada dokter hewan yang secara rutin memeriksa kondisi kesehatan rusa-rusa sambar itu.

Sumber: KOMPAS, SABTU, 9 AGUSTUS 2014



Friday, August 8, 2014

Muhammad Yanto: Gigih Mempertahankan Sawah

”Pak, tolong tunjukkan kepada kami bagaimana cara memasak dan memakan buah kelapa sawit! Kalau Bapak bisa menunjukkan caranya, kami siap mengganti tanaman padi di sawah kami dengan tanaman kelapa sawit.” Demikianlah kalimat yang keluar dari Muhammad Yanto, petani di Desa Teluk Tamba, Kecamatan Tabukan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, ketika perusahaan perkebunan kelapa sawit melakukan sosialisasi kepada warga. 

Yanto, panggilan dia, tetap gigih mempertahankan tanaman padi dan bersuara lantang ketika areal persawahan yang sudah puluhan tahun digarap petani hendak dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Meskipun sejak tahun 2011 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang hendak membuka lahan gencar melakukan pendekatan kepada warga, lelaki berkulit gelap ini sedikit pun tidak terpengaruh.

Prospek Batubara Masih kelabu

Harga beberapa komoditas, seperti minyak, emas, perak, dan paladium, terus naik. Ini terkait dengan ketegangan politik di sejumlah negara kawasan. Sementara itu, prospek kenaikan harga batubara masih tetap kelabu. Ini karena ada kelebihan pasokan batubara, baik jenis ”coking coal” maupun ”thermal coal”.

Selain itu juga karena ada penurunan permintaan sehingga menahan laju kenaikan harga batubara. Harga saham emiten- emiten produsen batubara juga tidak kunjung naik.

Pada awal perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (8/8), saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang pernah menjadi saham berkapitalisasi terbesar di BEI, turun 0,5 persen menjadi Rp 199.

Sementara itu, saham PT Adaro Indonesia (ADRO) turun 1,18 persen menjadi Rp 1.255 per saham. Menurut pemeringkat Moody’s Investor Service, harga batubara yang terus tertekan akan memengaruhi kualitas kredit perusahaan tambang Indonesia dalam 12-18 bulan ke depan. Hal itu akan memperlemah perusahaan.

Pertambangan dengan likuiditas kuat akan memiliki posisi kuat walaupun harga batubara tetap turun. ”Likuiditas yang besar, utang jatuh tempo yang tersebar, persyaratan belanja modal rendah, serta kebijakan keuangan konservatif akan membuat produsen batubara masih memiliki ruang untuk bergerak. Kami memperkirakan penurunan harga ini masih terus berlanjut,” kata Brian Grieser, vice president dan analis Moody’s .

Suramnya sektor batubara juga diungkapkan Mark Pervan, analis komoditas pada ANZ Bank. ”Produsen besar tampaknya tidak disiplin dalam mengatur pasokan, sementara permintaan melemah atau beralih pada pasokan energi alternatif,” kata Pervan. ANZ menurunkan proyeksi harga batubara rata-rata 10 persen dalam dua sampai tiga tahun ke depan.

Eksportir batubara Penurunan proyeksi harga batubara jenis thermal coal terkait dengan pasokan batubara Tiongkok yang terus mengalir.

Steam coal yang dikenal juga dengan nama thermal coal merupakan batubara yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Coking coal yang juga dikenal sebagai metallurgical coal digunakan untuk bahan bakar produksi baja.

Pasar batubara terbesar adalah Asia, yang menyerap sekitar 67 persen pasokan batubara global. Eksportir batubara terbesar adalah Australia yang akan mengekspor 175 juta ton coking coal tahun ini, naik 2,9 persen dari tahun lalu.

Pada 2015, Australia akan mengekspor 183 juta ton, menurut data dari Biro Sumber Daya dan Energi Ekonomi (BREE). Eksportir terbesar kedua adalah Indonesia.

Pada 2014, Indonesia menargetkan memproduksi 400 juta ton batubara, atau turun tipis sekitar 5 persen dari realisasi tahun 2013 sebesar 421 juta ton. Dari target tersebut, sekitar 95 juta ton atau 23,7 persen akan dipakai di dalam negeri, sementara sisanya diekspor ke sejumlah negara, seperti Tiongkok dan India.

Sumber: Kompas Siang, JUMAT, 8 AGUSTUS 2014