Google+

Friday, August 8, 2014

Prospek Batubara Masih kelabu

Harga beberapa komoditas, seperti minyak, emas, perak, dan paladium, terus naik. Ini terkait dengan ketegangan politik di sejumlah negara kawasan. Sementara itu, prospek kenaikan harga batubara masih tetap kelabu. Ini karena ada kelebihan pasokan batubara, baik jenis ”coking coal” maupun ”thermal coal”.

Selain itu juga karena ada penurunan permintaan sehingga menahan laju kenaikan harga batubara. Harga saham emiten- emiten produsen batubara juga tidak kunjung naik.

Pada awal perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (8/8), saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang pernah menjadi saham berkapitalisasi terbesar di BEI, turun 0,5 persen menjadi Rp 199.

Sementara itu, saham PT Adaro Indonesia (ADRO) turun 1,18 persen menjadi Rp 1.255 per saham. Menurut pemeringkat Moody’s Investor Service, harga batubara yang terus tertekan akan memengaruhi kualitas kredit perusahaan tambang Indonesia dalam 12-18 bulan ke depan. Hal itu akan memperlemah perusahaan.

Pertambangan dengan likuiditas kuat akan memiliki posisi kuat walaupun harga batubara tetap turun. ”Likuiditas yang besar, utang jatuh tempo yang tersebar, persyaratan belanja modal rendah, serta kebijakan keuangan konservatif akan membuat produsen batubara masih memiliki ruang untuk bergerak. Kami memperkirakan penurunan harga ini masih terus berlanjut,” kata Brian Grieser, vice president dan analis Moody’s .

Suramnya sektor batubara juga diungkapkan Mark Pervan, analis komoditas pada ANZ Bank. ”Produsen besar tampaknya tidak disiplin dalam mengatur pasokan, sementara permintaan melemah atau beralih pada pasokan energi alternatif,” kata Pervan. ANZ menurunkan proyeksi harga batubara rata-rata 10 persen dalam dua sampai tiga tahun ke depan.

Eksportir batubara Penurunan proyeksi harga batubara jenis thermal coal terkait dengan pasokan batubara Tiongkok yang terus mengalir.

Steam coal yang dikenal juga dengan nama thermal coal merupakan batubara yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Coking coal yang juga dikenal sebagai metallurgical coal digunakan untuk bahan bakar produksi baja.

Pasar batubara terbesar adalah Asia, yang menyerap sekitar 67 persen pasokan batubara global. Eksportir batubara terbesar adalah Australia yang akan mengekspor 175 juta ton coking coal tahun ini, naik 2,9 persen dari tahun lalu.

Pada 2015, Australia akan mengekspor 183 juta ton, menurut data dari Biro Sumber Daya dan Energi Ekonomi (BREE). Eksportir terbesar kedua adalah Indonesia.

Pada 2014, Indonesia menargetkan memproduksi 400 juta ton batubara, atau turun tipis sekitar 5 persen dari realisasi tahun 2013 sebesar 421 juta ton. Dari target tersebut, sekitar 95 juta ton atau 23,7 persen akan dipakai di dalam negeri, sementara sisanya diekspor ke sejumlah negara, seperti Tiongkok dan India.

Sumber: Kompas Siang, JUMAT, 8 AGUSTUS 2014


No comments:

Post a Comment