![]() |
| Abdulah Gampang |
Meski lahir di Jepara, Jawa Tengah, yang terkenal dengan kerajinan ukir kayunya, Gampang, demikian sapaannya, tidak pernah belajar mengukir di sana. Dia justru dibesarkan di Lampung hingga lulus SLTA pada 1993.
Setelah itu, Gampang memutuskan merantau dan menetap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 2005, dan menjadi buruh bangunan. ”Saya tidak punya keterampilan apa pun. Saat bekerja di mebel di Jalan Jati, Palangkaraya, saya tidak pernah bisa membuat kusen. Saya hanya bantu-
bantu,” kata suami dari Sri Handayani (39) tersebut.
Karena terbiasa bekerja di sekitar kayu dan melihat banyaknya limbah kayu benuas, ulin, meranti, lanan, dan jingah yang dibuang begitu saja, Gampang mulai mencoba membuat hiasan-hiasan kecil. Keinginannya untuk membuat hiasan terpacu dengan adanya lomba membuat suvenir saat ulang tahun Kota Palangkaraya pada 2010. ”Berulang kali hiasan yang saya buat patah dan tidak rapi. Hampir ada sepuluh kali mencoba untuk satu motif gantungan kunci,” ucap ayah dari Patra (14) dan Sabila (11).
Namun, dia tidak menyerah begitu saja. Saat itu, bermodalkan gergaji tangan seharga Rp 7.000 dan alat ukir seadanya, Gampang membuat sebuah gantungan kunci berbentuk Pulau Kalimantan dengan tulisan ”X-mantan” (dibaca Kalimantan). Ternyata, walaupun dibuat dengan peralatan sederhana, tidak disangka hasil karyanya itu mendapatkan penghargaan tertinggi, yaitu juara pertama kategori suvenir khas Palangkaraya.
Prestasi tersebut memicunya untuk semakin serius berkarya. Dari sanalah, Gampang kemudian memperdalam pengetahuannya tentang berbagai motif khas Dayak. ”Saya meminta bantuan staf Dinas Pariwisata serta Dinas Perdagangan, Industri, dan Koperasi di Palangkaraya untuk diberi pelatihan. Selain itu, saya juga belajar aneka motif dari buku-buku yang diberikan pemerintah,” tutur Gampang.
Selanjutnya, Gampang pun pernah diajak mengikuti pameran di sebuah pusat kerajinan tangan di Jakarta. Namun, saat melihat benda-benda yang dipamerkan, dia prihatin karena ternyata produk kerajinan yang dijual di stan Kalimantan Tengah justru bukan asli dari Kalimantan Tengah.
”Suvenir yang dijual malah berasal dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Padahal, Kalimantan Tengah punya banyak keunikan,” ucapnya.
Ajak tetangga
Sepulang dari Jakarta, dia pun mengembangkan kerajinan tangan dengan aneka motif khas Kalimantan Tengah. Gampang di antaranya membuat suvenir batang garing atau pohon kehidupan dalam kepercayaan Kaharingan, talawang atau perisai, burung tingang, gasing, dan kalawet. Secara bertahap, Gampang mengajak tetangga di sekitar tempat tinggalnya, di Kompleks Sri Rejeki, Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sabangau, Palangkaraya, untuk membantu membuat kerajinan tangan. Dia pun melatih mereka secara intensif, minimal dua minggu berturut-turut.
Secara bertahap, dua hingga tiga orang ikut membantu. Ada delapan ibu rumah tangga yang turut membantu menggarap bagian finishing, seperti mengampelas kasar, mengampelas dasar, mengampelas kelir, memelitur, serta pewarnaan. Pekerja lainnya adalah orang-orang yang lebih terampil di bagian tukang, melubangi kayu, dan mengukir.
Bagi tenaga terampil, Gampang memberikan upah secara borongan. Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan penghasilan lebih dari Rp 100.000. Adapun untuk ibu-ibu yang melakukan finishing, Gampang membayarnya dengan upah harian. Setiap orang mendapat Rp 6.500 per jam.
Usahanya pun semakin berkembang karena didukung oleh bantuan mesin dari pemerintah. Beberapa mesin itu antara lain mesin bubut, kompresor, dan gergaji. Dengan modal Rp 200.000 hingga Rp 300.000 untuk membeli limbah kayu dari 15 tempat usaha mebel yang ada di Palangkaraya, kini omzetnya mencapai sekitar Rp 10 juta per bulan. ”Peran pemerintah sangat membantu, semoga pendampingan ini terus berkelanjutan,” kata Gampang. Dia juga membutuhkan pendampingan mengenai bagaimana mengekspor produknya ke luar negeri.
Produknya pun semakin bervariasi, mulai dari plakat batang garing, plakat talawang, aneka gantungan kunci, wadah tisu, pigura kaca, tempat kartu nama, tempat tisu, asbak, angin-angin rumah (ventilasi), tempat dan tiang bendera dalam ruangan, lemari, hingga partisi motif batang garing. Harga sejumlah suvenir dan kerajinan tangan pun beragam, mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 2 juta per unit. Misalnya, gantungan kunci dijual dengan harga Rp 10.000, genta angin Rp 75.000, tempat tisu Rp 100.000, angin-angin rumah Rp 250.000-Rp 500.000, dan partisi motif batang garing Rp 2 juta.
Pelatihan gratis
Keberhasilan Gampang dalam merintis usahanya tersebut mendorong dia untuk berbagi kepada sesama. Dia pun bersedia dan terbuka untuk memberikan pelatihan kepada siapa pun yang mau belajar membuat aneka suvenir tanpa dipungut biaya. Sedikitnya ada 50 orang yang pernah dilatihnya, baik dari Palangkaraya maupun dari kabupaten sekitar, misalnya Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.
Orang yang pernah dilatihnya juga beragam, mulai dari yang tunadaksa hingga para siswa sekolah luar biasa. Selain itu, Gampang juga melatih para warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Palangkaraya.
Gampang kini dipercaya menjadi instruktur pelatihan pembuatan suvenir oleh pemerintah. Materi pelatihan yang sering diberikannya antara lain pemilihan bahan baku, menggambar motif, melubangi kayu atau membobok, membentuk, mengukir, membubut, serta finishing.
Gampang berkeinginan agar kekhasan suku Dayak berupa aneka motif kerajinan tangan dapat terus dikenal dan dilestarikan. Melalui pameran di sejumlah daerah, seperti Surabaya, Jakarta, Bali, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat, serta penjualan di toko-toko suvenir di Palangkaraya, dia memasarkan olahan limbah kayu tersebut. Potongan dan sisa kusen dari mebel, yang bagi orang biasa dianggap sampah tak berharga, di tangan Gampang dan orang-orang yang dilatihnya justru menjadi sumber berkah karena mendatangkan rezeki.
Data diri Abdulah Gampang
- Lahir: Jepara, 3 November 1968
- Pekerjaan: Perajin suvenir dan pemilik Patra Craftu
- Pendidikan: SLTA di Lampung, 1993
- Istri: Sri Handayani (39)
- Anak: Patra (14) dan Sabila (11)
Sumber: Kompas Cetak, 28 Agustus 2014

No comments:
Post a Comment