Google+

Monday, September 29, 2014

Berkunjung ke Rumah John si Bos Bekantan

Sejumlah bekantan makan pisang yang disediakan petugas di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB), Kota Tarakan, Kalimantan Utara, beberapa waktu lalu. Bekantan-bekantan tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mengunjungi KKMB.
”RUMAH” John dan kawan-kawan terasa teduh dan asri, jauh dari kebisingan suara knalpot, meski letaknya di pinggir jalan. John adalah kepala geng gerombolan bekantan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

John yang berbadan tegap ini langsung beraksi ketika para turis mulai mengamatinya. Rasa penasaran para turis dibalas dengan sikap John yang cuek bergelantungan dari satu ranting bakau ke ranting bakau lain. Namun, John sesekali mengawasi para turis itu dari balik rerimbunan bakau.

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) merupakan lokasi wisata favorit di Kota Tarakan. Lokasinya tak lebih 1 kilometer dari ruas jalan utama kota. Tempat ini juga cocok untuk mengisi waktu santai sore hari atau sekadar berteduh.

Sunday, September 28, 2014

B-banjar, Bermula dari Sandal Jepit

BERAWAL dari hobi mengoleksi suvenir khas sejumlah daerah, Selamat Budianto (38) merintis usaha produk cendera mata khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia membuat sandal, kaus, tas, topi, dan aksesori lain. Produk berlabel b-banjar itu kini menjadi oleh-oleh wajib wisatawan.

Selamat Budianto, yang akrab disapa Budi atau Boedie Banjar, merintis usaha produk b-banjar empat tahun silam, yakni pada Agustus 2010. Label b-banjar merupakan singkatan dari Boedie Banjar.

”Modal awal yang saya keluarkan untuk membuka usaha ini sekitar Rp 5 juta,” kata Budi saat ditemui di gerainya, beberapa waktu lalu.

Tuesday, September 23, 2014

Saatnya Entikong Menjadi Kawasan Pabean


Perdagangan lintas batas Indonesia-Malaysia di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, sering bermasalah, bahkan berpotensi memicu pertikaian otoritas perbatasan dengan masyarakat dan pelaku usaha. Pemerintah diminta menuntaskan persoalan itu dengan membenahi aspek tata niaga. 

Kepolisian Daerah Kalimantan Barat (Kalbar) sejak beberapa bulan lalu memperketat pengawasan barang-barang dari dan ke Malaysia karena pintu perbatasan kerap kali menjadi celah masuknya barang ilegal gara-gara tata niaga yang karut-marut. Di sisi lain, hal itu memicu aksi protes beberapa kalangan, termasuk pengusaha dan masyarakat, karena langkah pengawasan itu dinilai berlebihan.

Tuesday, September 16, 2014

Penebangan Liar: Nanga Tayap Pun Jadi Kota Mati

MASIH jelas di benak Bambang (40), pemilik warung kelontong di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada kurun 1991-2000, daerahnya menjadi kota yang sangat sibuk karena aktivitas penebangan kayu secara ilegal (illegal logging). Truk pengangkut kayu dari daerah pedalaman hampir setiap menit silih berganti melintas.

Suara motor air pengangkut kayu melalui Sungai Kayong, yang menghubungkan kota Nanga Tayap dengan sejumlah daerah pedalaman pun, setiap menit melintas dan memekikkan telinga hingga larut malam. ”Kayu berukuran besar yang diambil dari hutan pedalaman bisa ditemui di pinggir jalan,” tutur Bambang.

Wednesday, September 10, 2014

Warga Dayak Benuaq Pun Mengadu kepada Leluhur

KOTAK kayu itu perlahan dibuka. Tampak dua tengkorak manusia di dalamnya, yang ditutupi kain berwarna merah. Andreas Sinko, warga Kampung Muara Tae, Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, segera membersihkan dua tengkorak itu.
Kedua tengkorak berwarna kekuningan tersebut diperkirakan berumur 200 tahun. Itulah tengkorak Galoh dan Bulu, leluhur warga Dayak Benuaq di Kampung Muara Tae. Tengkorak itu, dan sejumlah sesaji, dibawa masuk ke dalam hutan adat, pekan lalu.

Warga hendak mengadu kepada leluhur, melalui upacara sumpah adat, terkait masalah tata batas yang membuat warga terampas haknya atas tanah adat. Leluhur mereka, Galoh, adalah Raja Muara Tae yang bergelar Mangkuana 2. Bulu adalah seorang tukang mantra.

Setelah dibersihkan, kedua tengkorak diletakkan di atas meja, lalu diolesi minyak. Sumpah adat dipimpin C Galoy MP, yang hampir selama ritual terus merapal mantra. Sejumlah sesaji juga dihamparkan di atas meja, seperti telur, daging ayam, daging kerbau, dan ketan.

Dengan sumpah adat, warga meminta leluhur memecahkan masalahnya. Upacara ini diikuti sekitar 20 warga, antara lain tokoh adat, sesepuh, dan perwakilan warga. Sehari sebelum sumpah, ratusan warga menggelar gugug tautn, yang dipercaya sebagai upacara persembahan kepada dewa penghuni alam semesta dan roh leluhur.

Tuesday, September 9, 2014

Mengenal Budaya Dayak

Sebanyak 13 peserta fashion show busana adat Dayak kategori anak-anak, usia 6-11 tahun, memperagakan desain dan keunikannya masing-masing, pekan lalu, pada Festival Bantaran Sungai Kahayan II di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Festival yang menjadi agenda tahunan sejak 2013 itu digelar untuk menarik minat wisatawan lokal dan internasional.


APRIANDI (27) dan Okta Narung (24) memasang kuda-kuda pencak silat khas Dayak, kuntau. Tatapan mata mereka saling mengunci. Tangan mengambang dan berputar di udara, bersiap melepaskan pukulan. Kaki mereka menyapu tanah, kemudian pelan-pelan saling mendekat dan beradu di bawah palang kayu. Tabuhan gendang manca mengiringi setiap gerakan mereka, diselingi sorakan dukungan dari penonton.

Itulah kesenian Lawang Sekepeng, salah satu kesenian budaya suku Dayak yang biasa digunakan pada upacara adat pernikahan dan penerimaan tamu. Pada acara pernikahan, pengantin laki-laki harus menyampaikan maksud dan tujuannya berkunjung kepada pengantin perempuan. Setelah niatnya diterima oleh tuan rumah, pengantin laki-laki harus menunjukkan kemampuan dengan melawan anggota keluarga yang dianggap kuat.

Saturday, September 6, 2014

Menyeberang Sungai Mahakam

Kapal tradisional dari kayu ini menjadi pilihan untuk menyeberang Sungai Mahakam dari Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (3/0). Jasa penyeberangan ini marak pasca ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara pada November 2011. [KOMPAS/Lukas Adi Prasetya]

Friday, September 5, 2014

Bekantan di Pohon Bakau

Seekor bekantan bertengger di pohon bakau di Mangrove Center, Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (1/) petang. Menikmati hamparan bakau dan ulah bekantan sembari menyusuri Sungai Somber menjadi aktivitas menarik di Mangrove Center. [KOMPAS/Lukas Adi Prasetya]

Thursday, September 4, 2014

Harga Batubara Tidak Murah

Pernyataan presiden terpilih Joko Widodo bahwa sumber energi dari minyak bumi bisa digantikan batubara karena lebih murah memicu keprihatinan sejumlah pihak. Harga batubara sebenarnya tidak murah karena tidak memasukkan eksternalitas. Di dalamnya tidak dihitung biaya dampak lingkungan, sosial, dan budaya.

Batubara hanya bisa digunakan saat masa transisi. Selanjutnya, pemerintah baru harus segera memperjelas peta jalan energi baru dan terbarukan serta mendorong pelaksanaannya.

Demikian rangkuman pendapat dari Direktur Pusat Penelitian tentang Konsep Keberlanjutan Universitas Surya Jon Respati, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abetnego Tarigan, fasilitator lapang Forum Masyarakat Sipil Siti Maimunah, dan Ketua Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur Merah Johansyah. Hal itu disampaikan, Selasa (2/9), di Jakarta.

Tuesday, September 2, 2014

Bayi Orangutan Diselamatkan Warga

Bayi orangutan jantan berusia sekitar 3 bulan yang ditemukan warga pada selasa lalu diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah yang bermitra dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, Senin (1/9), di Kota Palangkaraya, Kalteng. Orangutan kian terancam akibat kerusakan hutan dan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. [KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO]
Satu bayi orangutan jantan usia 2-3 bulan ditemukan warga, lalu diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah yang bermitra dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo.

”Saya menerima bayi orangutan ini dari Bapak Rilo, warga Desa Madara, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Dia menemukannya Selasa pekan lalu di kebun dengan kondisi terluka di tangan dan kaki kiri,” kata Dailamianus (44), warga Palangkaraya, yang menyerahkan orangutan itu kepada BKSDA Kalteng, Senin (1/9), di Palangkaraya.

Dailamianus menerima bayi orangutan itu pada Minggu sore seusai memancing ikan di Danau Madara. Menurut Pelaksana Harian Kepala BKSDA Kalteng Yusuf Trismanto, kerusakan hutan akibat penebangan liar dan kebakaran menyebabkan satwa liar terancam punah. Habitat orangutan rusak karena pembukaan lahan, misalnya untuk perkebunan sawit.

Thursday, August 28, 2014

Abdulah Gampang, Mengolah Limbah Kayu Jadi Berkah

Abdulah Gampang
Di rumahnya, Abdulah Gampang tampak sedang menyelesaikan dan mengemas genta angin dari limbah kayu berukiran motif Dayak yang dilengkapi dengan ikon khas Kalimantan Tengah, burung tingang. Keringat masih mengucur dari tubuhnya yang bertelanjang dada. Bapak dua anak kelahiran Jepara 46 tahun lalu itu dulu bekerja serabutan pada toko mebel di Palangkaraya, kini dia menjadi pemilik industri rumah tangga Patra Craft yang mempekerjakan sedikitnya 15 orang dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Meski lahir di Jepara, Jawa Tengah, yang terkenal dengan kerajinan ukir kayunya, Gampang, demikian sapaannya, tidak pernah belajar mengukir di sana. Dia justru dibesarkan di Lampung hingga lulus SLTA pada 1993.

Setelah itu, Gampang memutuskan merantau dan menetap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 2005, dan menjadi buruh bangunan. ”Saya tidak punya keterampilan apa pun. Saat bekerja di mebel di Jalan Jati, Palangkaraya, saya tidak pernah bisa membuat kusen. Saya hanya bantu-
bantu,” kata suami dari Sri Handayani (39) tersebut.

Saturday, August 9, 2014

Rusa Sambar Berkembang Biak di Penangkaran Tahura

Maryoto (30), petugas yang merawat rusa sambar (Cervus unicolor), memberi makan rusa-rusa sambar yang ada di lokasi penangkaran di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Kamis (7/8). Penangkaran rusa sambar di Tahura Sultan Adam mulai dilakukan November 2012. Populasi satwa liar yang dilindungi itu bertambah dari enam rusa menjadi 13 rusa dalam kurun waktu sekitar dua tahun.
Rusa sambar (Cervus unicolor) yang ditangkarkan di Taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, berkembang biak. Populasi satwa liar yang dilindungi tersebut bertambah tujuh ekor dalam dua tahun.

Penangkaran rusa sambar di Tahura Sultan Adam dimulai akhir 2012. ”Awalnya ada enam rusa yang kami tangkarkan. Kini, jumlahnya menjadi 13 rusa,” ujar Kepala Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam Ahmad Ridhani, di Banjar, Kamis (7/8).

Dari 13 rusa sambar yang ada, 4 rusa jantan dan 9 rusa betina. Penangkaran rusa sambar itu tidak hanya untuk pelestarian, tetapi juga untuk edukasi dan berbagai penelitian.

Rusa sambar merupakan salah satu satwa asli Kalimantan. Habitatnya hanya ditemukan di Kalimantan dan Sumatera. Satwa liar tersebut patut dilindungi karena populasinya terus berkurang.

”Di alam bebas, rusa sambar kerap diburu. Rusa sambar di Kalimantan Selatan masih bisa ditemui di kawasan hutan Pegunungan Meratus,” ujar Ridhani.

Rusa sambar merupakan rusa terbesar di Indonesia. Rusa lainnya adalah rusa timor, rusa bawean, dan kijang. Tinggi rusa sambar bisa mencapai 1,6 meter dengan panjang 1,5 meter. Bobot pejantan bisa mencapai 100 kilogram.

Di lokasi penangkaran seluas 0,75 hektar, awalnya dipelihara enam rusa sambar (dua jantan dan empat betina) yang didatangkan dari Kalimantan Tengah. Sejak datang November 2012, ada yang sudah dua kali melahirkan.

Menurut Kepala Seksi Perlindungan Tahura Sultan Adam Alip Winarto, ada dua petugas khusus untuk menjaga dan merawat rusa sambar di tempat penangkaran tersebut. Dua petugas itu bertugas memberi makan rusa setiap pagi dan sore. Selain itu juga ada dokter hewan yang secara rutin memeriksa kondisi kesehatan rusa-rusa sambar itu.

Sumber: KOMPAS, SABTU, 9 AGUSTUS 2014



Friday, August 8, 2014

Muhammad Yanto: Gigih Mempertahankan Sawah

”Pak, tolong tunjukkan kepada kami bagaimana cara memasak dan memakan buah kelapa sawit! Kalau Bapak bisa menunjukkan caranya, kami siap mengganti tanaman padi di sawah kami dengan tanaman kelapa sawit.” Demikianlah kalimat yang keluar dari Muhammad Yanto, petani di Desa Teluk Tamba, Kecamatan Tabukan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, ketika perusahaan perkebunan kelapa sawit melakukan sosialisasi kepada warga. 

Yanto, panggilan dia, tetap gigih mempertahankan tanaman padi dan bersuara lantang ketika areal persawahan yang sudah puluhan tahun digarap petani hendak dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Meskipun sejak tahun 2011 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang hendak membuka lahan gencar melakukan pendekatan kepada warga, lelaki berkulit gelap ini sedikit pun tidak terpengaruh.

Prospek Batubara Masih kelabu

Harga beberapa komoditas, seperti minyak, emas, perak, dan paladium, terus naik. Ini terkait dengan ketegangan politik di sejumlah negara kawasan. Sementara itu, prospek kenaikan harga batubara masih tetap kelabu. Ini karena ada kelebihan pasokan batubara, baik jenis ”coking coal” maupun ”thermal coal”.

Selain itu juga karena ada penurunan permintaan sehingga menahan laju kenaikan harga batubara. Harga saham emiten- emiten produsen batubara juga tidak kunjung naik.

Pada awal perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (8/8), saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang pernah menjadi saham berkapitalisasi terbesar di BEI, turun 0,5 persen menjadi Rp 199.

Sementara itu, saham PT Adaro Indonesia (ADRO) turun 1,18 persen menjadi Rp 1.255 per saham. Menurut pemeringkat Moody’s Investor Service, harga batubara yang terus tertekan akan memengaruhi kualitas kredit perusahaan tambang Indonesia dalam 12-18 bulan ke depan. Hal itu akan memperlemah perusahaan.

Pertambangan dengan likuiditas kuat akan memiliki posisi kuat walaupun harga batubara tetap turun. ”Likuiditas yang besar, utang jatuh tempo yang tersebar, persyaratan belanja modal rendah, serta kebijakan keuangan konservatif akan membuat produsen batubara masih memiliki ruang untuk bergerak. Kami memperkirakan penurunan harga ini masih terus berlanjut,” kata Brian Grieser, vice president dan analis Moody’s .

Suramnya sektor batubara juga diungkapkan Mark Pervan, analis komoditas pada ANZ Bank. ”Produsen besar tampaknya tidak disiplin dalam mengatur pasokan, sementara permintaan melemah atau beralih pada pasokan energi alternatif,” kata Pervan. ANZ menurunkan proyeksi harga batubara rata-rata 10 persen dalam dua sampai tiga tahun ke depan.

Eksportir batubara Penurunan proyeksi harga batubara jenis thermal coal terkait dengan pasokan batubara Tiongkok yang terus mengalir.

Steam coal yang dikenal juga dengan nama thermal coal merupakan batubara yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Coking coal yang juga dikenal sebagai metallurgical coal digunakan untuk bahan bakar produksi baja.

Pasar batubara terbesar adalah Asia, yang menyerap sekitar 67 persen pasokan batubara global. Eksportir batubara terbesar adalah Australia yang akan mengekspor 175 juta ton coking coal tahun ini, naik 2,9 persen dari tahun lalu.

Pada 2015, Australia akan mengekspor 183 juta ton, menurut data dari Biro Sumber Daya dan Energi Ekonomi (BREE). Eksportir terbesar kedua adalah Indonesia.

Pada 2014, Indonesia menargetkan memproduksi 400 juta ton batubara, atau turun tipis sekitar 5 persen dari realisasi tahun 2013 sebesar 421 juta ton. Dari target tersebut, sekitar 95 juta ton atau 23,7 persen akan dipakai di dalam negeri, sementara sisanya diekspor ke sejumlah negara, seperti Tiongkok dan India.

Sumber: Kompas Siang, JUMAT, 8 AGUSTUS 2014